BANYUMAS – Suasana pagi di kawasan Kota Lama Banyumas tampak berbeda dari biasanya. Di balik bangunan klasik yang kini difungsikan sebagai Griya Abhipraya, terlihat kesibukan yang produktif. Sejumlah Klien Pemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Kelas II Purwokerto tampak antusias menjalani rutinitas pembinaan kemandirian, mulai dari budidaya maggot hingga pemanenan hasil pertanian.

Griya Abhipraya, yang dicanangkan sebagai "Rumah Harapan" bagi para pelanggar hukum yang tengah menjalani masa reintegrasi, terus menunjukkan aktivitas nyata dalam membekali keterampilan hidup (life skills). Kegiatan hari ini difokuskan pada dua sektor utama: pengelolaan limbah organik melalui budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot, serta pemanenan hasil kebun berupa pisang yang telah matang.
Di sudut area budidaya, para klien dengan telaten memilah sampah organik sisa makanan dan sayuran. Sampah yang semula dianggap tidak berguna ini diolah menjadi pakan utama bagi ribuan larva maggot. Aktivitas memberi makan maggot ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah pelajaran tentang konsistensi dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
"Ini melatih ketelatenan. Maggot ini kalau diurus dengan benar, nilai ekonomisnya tinggi. Bisa untuk pakan ternak, ikan, dan residunya jadi pupuk kasgot (bekas maggot), " ujar salah satu klien yang tengah sibuk menabur pakan di biopond.
Tak jauh dari lokasi budidaya maggot, keriuhan lain terdengar di area perkebunan mini Griya Abhipraya. Beberapa klien, didampingi oleh petugas Bapas, melakukan pemanenan pohon pisang yang buahnya telah matang sempurna. Dengan sigap, mereka menebang batang pisang, memisahkan tandan buah, dan membersihkan area sekitar dari pelepah daun agar tunas baru dapat tumbuh optimal. Hasil panen ini rencananya tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri, tetapi juga dipasarkan sebagai latihan kewirausahaan.
Kepala Balai Pemasyarakatan Kelas II Purwokerto, Bluri Wijaksono, yang turut memantau kegiatan tersebut, menegaskan bahwa aktivitas fisik ini adalah media untuk membangun pola pikir baru. Menurutnya, Griya Abhipraya hadir bukan hanya sebagai tempat singgah, tetapi sebagai inkubator kemandirian sebelum klien kembali sepenuhnya ke tengah masyarakat.
"Kegiatan memberi makan maggot dan memanen pisang ini mungkin terlihat sederhana, namun filosofinya mendalam. Kami ingin menanamkan nilai bahwa dari hal kecil dan 'kotor' seperti sampah organik, jika dikelola dengan ilmu dan ketekunan, bisa menghasilkan nilai ekonomi seperti maggot. Begitu juga dengan pohon pisang, ada masa tanam, rawat, hingga akhirnya bisa dipanen, " ujar Bluri saat ditemui di lokasi, Rabu (26/11).
Lebih lanjut, Bluri menekankan pentingnya skill praktis yang bisa langsung diaplikasikan. Sektor agribisnis dan pengelolaan limbah dipilih karena potensinya yang besar dan modalnya yang relatif terjangkau bagi klien yang ingin merintis usaha mandiri kelak.
"Harapan kami jelas, ketika mereka keluar dari sini, mereka tidak bingung mau kerja apa. Mereka sudah punya bekal. Hari ini mereka belajar menebang dan memanen, besok mereka harus bisa menanam harapan baru bagi keluarga mereka. Kami ingin memutus stigma negatif dengan bukti karya nyata, " tegas Bluri.
Kegiatan di Griya Abhipraya Kota Lama Banyumas ini menjadi bukti sinergi antara Bapas, Pemerintah Daerah, dan Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas Lipas) dalam mendukung penerapan keadilan restoratif. Dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk kegiatan produktif, para klien diajarkan untuk kembali berdaya, mengubah kesalahan masa lalu menjadi energi positif untuk masa depan. (Humas Bapas Purwokerto)

Devira Arum