Purwokerto – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIB Purwokerto kembali melaksanakan kegiatan pembinaan kemandirian melalui Pelatihan Pembuatan Telur Asin berbahan dasar telur ayam hasil peternakan internal pada Kamis, (12/02/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya optimalisasi hasil produksi peternakan yang selama ini dikelola secara konsisten di lingkungan Lapas.

Pelatihan dilaksanakan secara terbuka oleh peserta magang dari Kementerian Ketenagakerjaan dalam bentuk demonstrasi langsung dan diikuti oleh 15 (lima belas) peserta. Selain peserta utama, warga binaan lainnya turut menyaksikan jalannya kegiatan sehingga proses pembelajaran dapat diterima secara lebih luas.

Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan pemahaman mengenai tahapan pemilihan telur berkualitas, proses pembersihan bahan baku, hingga teknik pembuatan telur asin menggunakan dua metode, yaitu metode perendaman dalam larutan air garam dan metode pembaluran menggunakan campuran abu gosok dan garam.

Setelah melalui proses tersebut, telur selanjutnya disimpan untuk menjalani masa pemeraman selama kurang lebih 14 (empat belas) hari sebelum dilakukan perebusan.
Peternakan ayam petelur yang dikelola di Lapas Narkotika Purwokerto mampu menghasilkan 44–50 butir telur setiap harinya. Produksi yang stabil tersebut menjadi potensi bahan baku berkelanjutan untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah, salah satunya telur asin.
Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja, Ilham Saputra Halilintar, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam memaksimalkan hasil peternakan yang telah berjalan dengan baik. Ilham mengatakan, kegiatan pelatihan pembuatan telur asin berbahan dasar telur ayam ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah dari hasil produksi peternakan yang tersedia setiap hari.
“Dengan adanya produksi telur yang stabil, kami berupaya mengembangkan pengolahan hasil ternak agar tidak hanya dipasarkan dalam bentuk telur segar, tetapi juga dapat menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Ini bagian dari strategi pembinaan kemandirian yang berkelanjutan, ” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada hasil produk, tetapi juga pada proses pembelajaran bagi warga binaan. Melalui pelatihan ini, peserta memahami tahapan teknis pengolahan secara benar dan higienis, mulai dari persiapan bahan hingga proses pemeraman sebelum perebusan.
Melalui kegiatan ini, Lapas Narkotika Purwokerto terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan program pembinaan yang produktif, inovatif, dan memiliki nilai tambah. Optimalisasi hasil peternakan melalui pengolahan telur asin diharapkan dapat menjadi salah satu produk unggulan dalam mendukung program pembinaan kemandirian berbasis potensi internal.
(Humas Elkapur)
